Friday, February 25, 2011

Berhentilah jadi gelas

seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya
ketika wajahnya
kebelakangan ini selalu nampak murung

"kenapa kau selalu murung,nak?
bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?
ke mana perginya wajah bersyukurmu?"
sang guru bertanya.

"guru,kebelakangan ini hidup saya oenuh masalah.
sulit bagi saya untuk tersenyum.
masalah datang tanpa henti
jawab murid muda

sang guru terkekeh."nak,ambil segelas air dan dua genggam garam
bawalah kemari biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

si murid pun beranjak pelan tanpa semangat
ia laksanakan permintaaan gurunya itu,
lalu kembali membawa gelas yang disuruh

cuba ambil segenggam garam dan masukkan ke segelas air itu
setelah itu cuba ko minum air itu sedikit
si murid pun melakukannya. wajahya kini meringis
kerana meminum air masin itu

"bagaimanya rasanya?" tanya guru

"masin,dan perutku jadi mual," jawab si murid
dengan wajah yang masih meringis

sang guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya itu

"sekarang kau ikot aku." sang guru membawa
muridnya ke sungai yg berdekatan
ambik garam yang lebih itu tadi dan tebarkan ke sungai
si murid menurut tanpa berkata apa-apa
rasa masin di mulutnya belum hilang
rasa ingin meludahkan je,tapi tak dilakukan
kerana kurang sopan meludah di hadapan mursyid
fikir murid muda itu

si murid menangkupkan kedua tangannya
mengambil air sungai dan
membawanya kem ulutnya lalu meneguknya
sang guru bertanya kepadanya,
bagaimana rasanya?

"segar,segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya
dengan belakang tangannya. sudah tentu,sungai ini berasal
dari aliran sumber
air di atas sana. dan airnya mengalir menjadi sungai
kecil di bawah.
dan sudah pasti, air sungai ini juga menghilangkan
rasa masin yang tersisa di mulutnya

"terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil'air dan meminumnya lagi
sang guru hanya tersenyum
memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air sungai sampai puas

"nak,"kata sang guru setelah muridnya selesai minum.
"segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.
tidak kurang,tidak lebih.
hanya segenggam garam.banyaknya masalah dan
penderitaan yang harus kau alami
sepanjang kehidupanmu itu sudah ditentukan oleh Allah
sesuai untuk dirimu.jumlahnya tetap,
tidak berkurang dan tidak bertambah.
setiap manusia lahir ke dunia ini pun,
walaupun dia seorang Nabi
bebas dari penderitaan dan masalah."

si murid terdiam.

"tapi nak,rasa masin dari penderitaan yang
dialami itu sangat bergantung dari besarnya hati yang menampungnya.
jadi nak,supaya tidak merasa menderita
berhentilah jadi gelas
jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar sungai


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...